PENDAHULUAN
Salah
satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu saja
tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori-teori
dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat.
Oleh karenanya, Anda sebagai calon guru perlu mempelajari teori dan
prinsip-prinsip belajar yang dapat membimbing aktivitas Anda dalam
merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Walaupun teori
belajar tidak dapat diharapkan menentukan langkah demi langkah prosedur
pembelajaran, namun ia bisa memberi arah prioritas-prioritas dalam
tindakan guru.
Dalam
perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap
batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan
pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip belajar
dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Guru dapat
terhindar dari tindakan-tindakan yang kelihatannya baik tetapi nyatanya
tidak berhasil meningkatkan proses belajar siswa. Selain itu dengan
teori dan prinsip-prinsip belajar ia memiliki dan mengembangkan sikap
yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.
A. Prinsip-Prinsip Belajar
Banyak
teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang
satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari
berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif
berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya
pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya
maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip
itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, kreatifan, ketertiban
langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan,
serta perbedaan individual.
1. Perhatian dan Motivasi
Perhatian
mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian
teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya
perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984 : 335).
Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan
pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu
dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar
lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan
membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini
tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
Di
samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan
belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi
pada mobil (Gage dan Berliner, 1984 : 372).
“Motivation is the concept we use when we describe the force action on or within an organism to initiate and direct behavior”
demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986 : 3). Motivasi
dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan,
motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa
siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sampai kegiatan
belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor
seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat
menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan,
nilai-nilai, dan keterampilan.
Motivasi
mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat
terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya
dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi
tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap
penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan
mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan
pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan
tidak bertetangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Sikap
siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya.
Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang belajar matematika dan
terdorong untuk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya
adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada
diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Insentif,
suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sesudah melakukan kegiatan,
dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F.
Skinner dengan operant conditioning-nya. (Hal ini dibicarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan).
Motivasi
dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat
juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang
tua, teman, dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik
dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah
tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai
contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata
pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang ingin
dipelajarinya. Sedangkan motif ekstrinsik
adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya
tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sunguh-sungguh
bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi
didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas
dan mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Motif
intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga
bersifat eksternal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat
internal maupun eksternal, walaupun lebih banyak bersifat eksternal.
Motif ekstrinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik, yang
disebut “transformasi motif”. Sebagai contoh, seorang siswa belajar di
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan
orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi guru. Mula-mula motifnya
adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang tuanya, tetapi setelah
belajar beberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran yang
digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa
itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik.
2. Keaktifan
Kecenderungan
psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif.
Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan
aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan
juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin
terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya
mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan
siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa
sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah (John Dewey 1916, dalam
Davies, 1937 : 31).
Menurut
teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa
mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar menyimpannya saja
tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, 1984 : 267). Menurut
teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencakan
sesuatu. Anak mampu untuk mencari, menemukan, dan menggunakan
pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar-mengajar anak
mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta,
menganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan.
Thomdike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of exercise”-nya
yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Mc
Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu
merupakan “manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial” (Mc
Keachie, 1976 : 230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991 : 105).
Dalam
setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan
itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita
amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa
berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan,
dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah
pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi,
membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil
percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
3. Ketertiban Langsung/Berpengalaman
Di
muka telah dibicarakan bahwa belajar haruslah dilakukan sendiri oleh
siswa, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada
orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang
dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang
paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar
melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secara
langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat lansung dalam perbuatan,
dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang
belajar membuat tempe, yang paling baik apabila ia terlibat secara
langsung dalam pembuatan (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang membuat tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).
Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “learning by doing”-nya.
Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus
dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok,
dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan
siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata,
namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional,
keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapain dan perolehan
pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam
pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan
latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
4. Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya.
Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada
manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat,
mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan
pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya
pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih
dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.
Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thomdike. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”,
ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara
stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu
memperbesar peluang timbulnya respons besar. Seperti kata pepatah
“latihan menjadikan sempurna” (Thomdike, 1931b : 20, dari Gredler,
Margaret E Bell, terjemahan Munandir, 1991 : 51). Psikologi Conditioning
yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme juga
menekankan pentingnya pengulangan dalam belajar. Kalau pada
Koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons
maka pada psikologi conditioning respons
akan timbul bukan karena saja oleh stimulus, tetapi juga oleh stimulus
yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena
kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mendengar bunyi
lonceng, kendaraan berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah.
Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dan belajar
merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons
terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang
sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak
perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat juga oleh
stimulus penyerta.
Ketiga
teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar
walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk
melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk
membentuk respons yang benar dan membentuk kebiasaan-kebiasaan.
Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan
seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat
dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip
pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar
masih tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984 : 259).
5. Tantangan
Teori Medan (Field
Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar
berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar
siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu
terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif
untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar
tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar
telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru,
demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk
mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menentang.
Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah
untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung
masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk
mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk
menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan
menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep,
prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah
diolah secara tuntas oleh guru sehingga siswa tinggal menelan saja
kurang menarik bagi siswa.
Penggunaan
metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi
siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan
positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif
untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak
menyenangkan.
6. Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect-nya
Thomdike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan
mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apabila hasil yang baik, akan
merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha
belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner
tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak
menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif
dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1984 : 272).
Siswa
belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan.
Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai
yang baik dapat merupakan operant conditioning
atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek
pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut
tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar lebih giat. Di sini nilai
buruk dan rasa takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk
belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif. Di sini siswa
mencoba menghindar dari peristiwa yang tidak menyenangkan, maka
penguatan negatif juga disebut escape conditioning.
Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan,
dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan
terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa
setelah belajar melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa
terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.
7. Perbedaan Individual
Siswa
merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang
sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain.
Perbedaan itu terdapat pada karakteritik psikis, kepribadian, dan
sifat-sifatnya.
Perbedaan
individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa.
Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya
pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita
kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan
pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan
kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula
dengan pengetahuannya.
Pembelajaran
yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat
diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau
strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan
kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional
akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar.
Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan
memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang
pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang. Di
samping itu dalam memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan
minat dan kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang,
maupun kurang akan merasakan berhasil di dalam belajar. Sebagai unsur
primer dan sekunder dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya siswa dan
guru terimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.
Implikasi
prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap
kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun
demikian, perlu disadari bahwa implementasi prinsip-prinsip belajar
sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak
semuanya terwujud dalam setiap proses pembelajaran. Agar anda mendapat
kejelasan tentang implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru,
uraian berikut ini dapat membantu Anda memperolehnya.
a. Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Siswa
Siswa
sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran,
dengan alasan apa pun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya
prinsip-prinsip belajar. Justru para siswa akan berhasil dalam
pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar
terhadap diri mereka.
1. Perhatian dan motivasi
Siswa
dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang
mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu
memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan
perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang
menjadi isi pelajaran seringkali dalam bentuk rangsangan suara, warna,
bentuk, gerak, dan rangsangan lain yang dapat diindra. Dengan demikian
siswa diharapkan selalu melatih indranya untuk memperhatikan rangsangan
yang muncul dalam proses pembelajaran. Peningkatan/pengembangan minat
ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi (Gage dan
Berliner, 1984 : 373). Contoh kegiatan atau perilaku siswa, baik fisik
atau psikis, seperti mendengarkan ceramah guru, membandingkan konsep
sebelumnya dengan konsep yang baru diterima, mengamati secara cermat
gerakan psikomotorik yang dilakukan guru, atau kegiatan sejenis lainnya.
Semua kegiatan atau perilaku tersebut harus dilakukan oleh siswa secara
sadar sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajarnya.
Sedangkan
implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa
bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan
mengembangkan secara terus-menerus. Untuk dapat membangkitkan dan
mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus-menerus, siswa dapat
melakukannya dengan menentukan/mengetahui tujuan belajar yang hendak
dicapai, menanggapi secara positif pujian/dorongan dari orang lain,
menentukan target/sasaran penyelesaian tugas belajar, dan perilaku
sejenis lainnya. Dari contoh-contoh perilaku siswa untuk meningkatkan
dan membangkitkan motivasi belajar, dapat ditandai bahwa
perilaku-perilaku tersebut bersifat psikis.
2. Keaktifan
Sebagai
“primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar,
siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan
belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya
secara efektif, pembelajar dituntut untuk aktif secara fisik,
intelektual, dan emosional. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa
berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang
dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari suatu
reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku sejenis
lainnya. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut
keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran.
3. Keterlibatan langsung/berpengalaman
Hal
apa pun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri.
Tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya
(Davies, 1987 : 32). Pernyataan ini, secara mutlak menuntuk adanya
keterlibatan langsung dari setiap siswa dalam kegiatan belajar
pembelajaran. Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak
segan-segan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada
mereka. Dengan keterlibatan langsung ini, secara logis akan menyebabkan
mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku
yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa
misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola-voli, siswa
melakukan reaksi kimia, siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa
membaca puisi di depan kelas, dan perilaku sejenis lainnya. Bentuk
perilaku keterlibatan langsung siswa tidak secara mutlak menjamin
terwujudnya prinsip keaktifan pada diri siswa. Namun demikian, perilaku
keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan belajar pembelajaran
dapat diharapkan mewujudkan keaktifan siswa.
4. Pengulangan
Penguasaan
secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara
keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987 : 32). Dari pernyataan inilah
pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi
adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk
bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam
permasalahan. Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa tidak merasa bosan
dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang
merupakan implikasi prinsip pengulangan, diantaranya menghafal
unsur-unsur kimia setiap valensi, mengerjakan soal-soal latihan,
menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun
terjadinya peristiwa sejarah.
5. Tantangan
Prinsip
belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa diberikan
tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi
untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies,
1987 : 32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk
memperoleh, memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan
pembelajaran. Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan
dimilikinya kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu
memperoleh, memproses, dan mengolah pesan. Selain itu, siswa juga harus
memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala permasalahan yang
dihadapinya. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan implikasi dari
prinsip tantangan ini di antaranya adalah melakukan eksperimen,
melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau mencari tahu
pemecahan suatu masalah.
6. Balikan dan penguatan
Siswa
selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah
benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki
pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement)
(Davies, 1987 : 32). Hal ini timbul karena kesadaran adanya kebutuhan
untuk memperoleh balikan dan sekaligus penguatan bagi setiap kegiatan
yang dilakukannya. Untuk memperoleh balikan penguatan bentuk-bentuk
perilaku siswa yang memungkinkan di antaranya adalah dengan segera
mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap
skor/nilai yang dicapai, atau menerima teguran dari guru/orang tua
karena hasil belajar yang jelek.
7. Perbedaan individual
Setiap
siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan
yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo
(kecepatan)nya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi
kecepatan belajar (Davies, 1987 : 32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda
dengan siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan
sasaran belajar bagi dirinya sendiri. Implikasi adanya prinsip perbedaan
individual bagi siswa di antaranya adalah menentukan tempat duduk di
kelas, menyusun jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya
prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat berupa perilaku fisik maupun
psikis.
b. Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Guru
Guru
sebagai orang kedua dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari
adanya prinsip-prinsip belajar. Guru sebagai penyelenggara dan pengelola
kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar
ini. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru tertampak pada rencana
pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan pembelajrannya. Implikasi
prinsip-prinsip belajar bagi guru terwujud dalam perilaku fisik dan
psikis mereka. Kesadaran adanya prinsip-prinsip belajar yang terwujud
dalam perilaku guru, dapat diharapkan adanya peningkatan kualitas
pembelajaran yang diselenggarakan.
1. Perhatian dan motivasi
Guru
sejak merencanakan kegiatan pembelajarannya sudah memikirkan
perilakunya terhadap siswa sehingga dapat menarik perhatian dan
menimbulkan motivasi siswa dan tidak berhenti pada rencana
pembelajarannya dalam pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Implikasi
prinsip perhatian bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku sebagai
berikut :
1) Guru menggunakan metode secara bervariasi.
2) Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan.
3) Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.
4) Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing (direction question).
Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku yang di antaranya adalah :
1) Memilih bahan ajar sesuai minat siswa.
2) Menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa.
3) Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan hasilnya kepada siswa.
4) Memberikan pujian verbal atau non-verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan yang diberikan.
5) Memberitahukan nilai guna dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa.
Perilaku
yang merupakan implikasi prinsip-prinsip perhatian dan motivasi bagi
guru dapat tertampak lebih dari satu perilaku dalam suatu kegiatan
pembelajaran.
2. Keaktifan
Para
guru memberikan kesempatan belajar kepada para siswa, memberikan
peluang dilaksanakannya implikasi prinsip keaktifan bagi guru secara
optimal. Peran guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi
masing-masing siswa berarti mengubah peran guru dari bersifat didaktis
menjadi lebih bersifat mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap
siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan di dalam kondisi yang ada
(Sten, 1988 : 224). Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan
oleh guru akan menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh, dan
mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar
pada diri siswa, maka guru di antaranya dapat melaksanakan
perilaku-perilaku berikut :
1) menggunakan multimetode dan multimedia,
2) memberikan tugas secara individual dan kelompok,
3) memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari 3 orang),
4) memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang kurang jelas, serta
5) mengadakan tanya jawab dan diskusi.
3. Keterlibatan langsung/berpengalaman
Guru
harus menyadari bahwa keaktifan membutuhkan keterlibatan langsung siswa
dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian, perlu diingat bahwa
keterlibatan langsung secara fisik tidak menjamin keaktifan belajar.
Untuk dapat melibatkan siswa secara fisik, mental emosional, dan
intelektual dalam kegiatan pembelajaran, maka guru hendaknya merancang
dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan
karakteristik siswa dan karakteristik isi pelajaran. Perilaku sebagai
implikasi prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman diantaranya adalah
:
1) Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok kecil.
2) Mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan dengna demonstrasi.
3) Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa.
4) Memberikan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakan psikomotorik yang dicontohkan.
5) Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber informasi di luar kelas atau luar sekolah.
6) Melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran.
Implikasi
lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru
adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai manajer/pengelola kegiatan
pembelajaran yang mampu mengarahkan, membimbing, dan mendorong siswa ke
arah tujuan pengajaran yang ditetapkan.
4. Pengulang
Implikasi
prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan
pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan yang
tidak membutuhkan pengulangan. Hal ini perlu dimiliki oleh guru karena
tidak semua pesan pembelajaran membutuhkan pengulangan. Pengulangan
terutama dibutuhkan oleh pesan-pesan pembelajaran yang harus dihafalkan
secara tetap tanpa ada kesalahan sedikit pun. Selain itu, pengulangan
juga diperlukan terhadap pesan-pesan pembelajaran yang membutuhkan
latihan. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan di
antaranya adalah :
1) merancang pelaksanaan pengulangan,
2) mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan,
3) mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang,
4) mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan, dan
5) membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.
5. Tantangan
Apabila
guru menginginkan siswa selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru
harus memberikan tantangan pada siswa dalam kegiatan pembelajarannya.
Tantangan dalam kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan oleh guru melalui
bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk
kegiatan pembelajaran. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip
tantangan di antaranya adalah :
1) Merancang
dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil (3 -
4 orang).
2) Memberikan
tugas pada siswa memecahkan masalah yang membutuhkan informasi dari
orang lain di luar sekolah sebagai sumber informasi.
3) Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan.
4) Mengembangkan bahan pembelajaran (teks, hand out,
modul, dan yang lain) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk
mendapatkan tantangan di dalamnya, sehingga tidak harus semua pesan
pembelajaran disajikan secara detail tanpa memberikan kesempatan siswa
mencari dari sumber lain.
5) Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri.
6) Guru merancang dan mengelola kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan masalah-masalah yang disajikan dalam topic diskusi.
6. Balikan dan penguatan
Balikan
dapat diberikan secara lisan maupun tertulis, baik secara individual,
ataupun kelompok klasikal. Guru sebagai penyelenggara kegiatan
pembelajaran harus dapat menentukan bentuk, cara, serta kapan balikan
dan penguatan diberikan. Agar balikan dan pengutan bermakna bagi siswa,
guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi prinsip
balikan dan penguatan bagi guru, berwujud prilaku-prilaku yang di
antaranya adalah :
1) Memberitahukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara benar ataupun salah.
2) Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu yang telah ditentukan.
3) Memberikan
catatan-catatan pada hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan,
klipping pekerjaan rumah), berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil
kerja pembelajaran.
4) Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatan-catatan bagi pembelajar.
5) Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.
6) Memberikan
anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain kepada siswa yang
menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
7) Memberikan hadiah/ganjaran kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.
7. Perbedaan individual
Setiap
guru tentunya harus menyadari bahwa menghadapi 30 siswa dalam satu
kelas, berarti menghadapi 30 macam keunikan atau karakteristik. Selain
karakteristik/keunikan kelas, guru harus menghadapi 30 siswa yang
berbeda karakteristiknya satu dengan lainnya. Guru sebagai penyelenggara
kegiatan pembelajaran dituntut untuk memberikan perhatian kepada semua
keunikan yang melekat pada tiap siswa. Dengan kata lain, guru tidak
mengasumsikan bahwa siswa dalam kegiatan pembelajaran yang
diselenggarakannya merupakan satu kesatuan yang memiliki karakteristik
yang sama. Konsekuensi logis adanya hal ini, guru harus mampu melayani
setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang. Implikasi
prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang
diantaranya adalah :
1) menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya,
2) merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran,
3) mengenali
karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan
pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan, dan
4) memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan.
Rangkuman
Para
ahli telah meneliti gejala-gejala dari berbagai sudut pandang ilmu.
Mereka telah menemukan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar. Di
antara prinsip-prinsip belajar yang penting berkenan dengan (i)
perhatian dan motivasi belajar siswa, (ii) keaktifan belajar, (iii)
keterlibatan dalam belajar, (iv) pengulangan belajar, (v) tantangan
semangat belajar, (vi) pemberian balikan dan penguatan belajar, dan
(vii) adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar. Perhatian
dapat memperkuat kegiatan belajar, menggiatkan perilaku untuk mencapai
sasaran belajar. Perhatian berhubungan dengan motivasi sebagai tenaga
penggerak belajar. Motivasi belajar dapat bersifat internal atau
eksternal, maupun intrinsik atau ekstrinsik. Kondisi perhatian dan
motivasi pembelajar (intrinsik, ekstrinsik, internal, eksternal)
tersebut mempengaruhi rekayasa acara pembelajaran siswa. Dewasa ini para
ahli memandang bahwa siswa adalah seorang individu yang aktif. Oleh
karena itu, peran guru bukan sebagai satu-satunya pembelajar, tetapi
sekedar pembimbin, fasilitator, dan pengarah. Belajar memang bersifat
individual, oleh karena itu belajar berarti suatu keterlibatan langsung
atau pemerolehan pengalaman individual yang unik. Belajar, juga tidak
terjadi sekaligus, tetapi akan berlangsung penuh pengulangan
berkali-kali, bersinambungan, tanpa henti. Belajar yang berarti terjadi
bila bahan belajar tersebut menantang siswa. Belajar juga menjadi
terarah bila ada balikan dan penguatan dari pembelajar. Betapapun
belajar yang telah direkayasa secara pedagogis oleh guru, hasil belajar
akan terpengaruh oleh karakteristik psikis, kempribadian, dan
sifat-sifat individual pebelajar.
Pembelajaran
tidak mengabaikan karakteristik pebelajar dan prinsip-prinsip belajar.
Oleh karena itu dalam program pembelajaran guru perlu berpegang bahwa
pebelajar adalah “primus motor” dalam belajar. Dengan demikian guru
dituntut untuk memusatkan perhatian, mngelola, menganalis, dan
mengoptimalkan hal-hal yang berkaitan dengan (i) perhatian dan motivasi
belajar siswa, (ii) keaktifan siswa, (iii) optimalisasi keterlibatan
siswa, (iv) melakukan pengulangan-pengulangan belajar, (v) pemberian
tantangan agar siswa bertanggung jawab, (vi) memberikan balikan dan
penguatan terhadap siswa, dan (vii) mengelola proses belajar sesuai
dengan perbedaan individual
No comments:
Post a Comment